Perkara Janji.. Perkara Olahraga

Sebelum sabtu minggu, kebanyakan dari kita sudah sering mengatur jadwal untuk bikin weekend jadi seru. Entah kumpul dengan keluarga, sahabat, teman, pacar. Terkadang juga ada yang suka menyendiri.

Nah! Seperti yang sudah-sudah, kebiasaan saya sebelum weekend adalah “Berjanji Untuk Olahraga”. Olahraga yang saya pilih adalah bersepeda. Kenapa bersepeda?? Yaa.. karena enak aja. Hehehe..

Saya tipikal perempuan yang pengetahuan dan minat terhadap olahraga sangat minim. Coba tanya saya soal bola, basket, bulutangkis, atau olahraga lainnya. Jawaban saya pasti ala kadarnya. *nunduklesu* 

Nonton pertandingan bola hanya waktu ada piala dunia. Nonton kejuaraan bulutangkis hanya waktu era-era keemasan Taufik Hidayat dan atlet-atlet sebelum beliau. **Kok akikk jadi keliatan tua banget yakk?** :))) 

Saya suka sepedaan karena lebih gampang. Nggak nyiksa-nyiksa amat, yahh gowes sejam cukuplah menguras keringat dan bikin badan jadi segar. Sepedaan juga melatih dan menguatkan otot lengan, paha, dan betis, sekalian juga bisa memperkecil ketiga bagian itu. Cocoklah buat aset saya yg agak big size. Sebenarnya ada olahraga yang lebih gampang lagi, yaitu Lari. Saya sudah coba, sampai bela-belain beli sepatu running pula. Tapi yahh bok.. Lari nggak segampang yang sering diceritakan si pakar keuangan, Ligwina Hananto di timelinenya. Sumpah, kalau nggak terbiasa atur nafas, bisa smaput ngana. Huhh! 

Fenomena aneh yang sering muncul kalau lari adalah saya selalu berasa mau BAB. Apakah reaksi kimiawinya memang seperti itu atau badan saya aja yg aneh??! I don’t know. Intinya saya nggak suka lari. Sini mah, cuma jago lari dari kenyataan dan masa lalu aja cynnn. Mwahahaha..  

Anyway, sekarang ini persoalannya adalah Janji untuk olahraga pagi di weekend itu sifatnya semu. Hanya fatamorgana. Cenderung nggak terwujud. Janji mulia ini dihalangi sama buaian kasur dan bantal yang lebih menggiurkan. Mereka kompak dan solid, bikin saya lupa diri saat tidur dan akhirnya bangun kesiangan.   

Ada kali setahun lebih saya tidak lagi rutin sepedaan. Imbasnya ke jarum timbangan berat badan yang semakin –tak tau malu lagi untuk– bergeser ke kanan saat saya berdiri di atasnya. Asem banget kan! Pupuslah sudah harapan akikk jadi selangsing mbak-mbak pramugari. :(:( 

Penyebabnya adalah saya malas mendengarkan alarm olahraga yang seringkali bunyi otomatis di alam bawah sadar saat lagi tidur. Saya sering dengan sengaja melupakan “janji mulia” tadi. Jadi, kemalasan memang harus dilawan. Semuanya tergantung dari kemauan dan kesanggupan. Mau bangun pagi dan sanggup olahraga. 

Jangan kapok berjanji, dan jangan tunda untuk menunaikan janji itu. Saya bukan ingin menggurui siapa pun, tulisan ini hanya sekedar self reminder buat saya yang masih malas olahraga. 

So, Let’s ride your bicycle, cong!!! :’)))

*semoga Menpora tak menitikkan air mata haru saat baca ini*…HAHAHAHA!

Advertisements

About coklatcaca

Lulusan Arsitektur, tapi terdampar sebagai Karyawati Bank. Berharap suatu hari bisa bekerja dari rumah, jadi full IRT atau Wiraswasta.
This entry was posted in Body, mind, & soul. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s