Menolak Lupa: Jadi Supporter Tim Sepakbola Kelas

Pengetahuan saya soal sepakbola sangat minim. Nonton sepakbola hanya kalau lagi mood saja. Atau lagi ada moment-moment tertentu, seperti piala dunia dan TIMNAS Indonesia lagi bertanding. 

Tapi gara-gara baca blog post dan lihat foto-foto Bedebah FC (Klub sepakbola, anggotanya beberapa Komika favorit dan beberapa orang yang beda profesi), saya jadi teringat kenangan jaman SMA sama teman-teman cowok sekelas yang hobby main sepakbola di lapangan besar. Bedebah FC sendiri konotasi dan kedengarannya negatif, tapi jangan salah kaprah dulu… kepanjangannya ternyata BERMAIN DENGAN BAHAGIA :))). Unik dan kreatif. Prinsip klub ini “Menang itu wajib. Bahagia itu wajib. Foto-foto itu ibadah.” HAHAHAHA. Gimana nggak bahagia, anggotanya tukang melucu semua, main sambil ngelawak, daaan kumpulan pria-pria ketjeh pula *ini bahagia untuk saya si silent reader* *abaikan* :D:D

***

Balik ke kenangan jaman SMA tahun 2000 – 2003 di saat futsal belum lahir dan hits seperti sekarang ini, teman cowok sekelas saya 2-4 SMADA Makassar (nama kelas) itu hobbynya main sepakbola. Kalau Bedebah FC fokus main di lapangan yang indah, teman-teman saya malah main di lapangan yang available saja, kagak bisa milih-milih. Lapangan Armed jadi tempat yang paling favorit dibanding Lap. Karebosi atau Lap. Mattoangin. Selain karena dekat dari sekolah, tinggal jalan kaki saja, nggak perlu mengeluarkan uang buat bayar ongkos pete-pete (angkutan umum), lapangan ini kepunyaan TNI-AD dan berada satu kompleks dengan asrama mereka, jadi tindakan anarkisme pemain atau pendukung tim niscaya sulit terjadi. Cowok-cowok ini sudah takut duluan sama sepatu laras dan senjata Bapak-Bapak tentara. Penduduk sekitar juga suka ikut nonton, kebanyakan sih anak kecil yang kabur dari rumah, bolos bobok siang. Dan dibanding kedua lapangan tadi, cuma di sekitar Lap. Armed yang jual “ES Batu Lembek”, minuman favorit murah yang affordable, namun kesterilan airnya sungguh diragukan. Kalau mau beli Aqua, mahal ciinnn.. NYAHAHAHA..

Cowok-cowok sekelas saya itu hampir semuanya pada hobby main bola, itu sebabnya mereka suka ditantang sama kelas lain untuk bertanding. Seringnya juga mereka yang menantang kelas lain. Ada kebanggaan tersendiri bagi mereka bermain dengan atmosfer kompetisi, bukan main untuk have fun saja. 

Jadwal pertandingannya setelah pulang sekolah sekitar jam 14.30, saat panas matahari seperti sedang mencubit kulit. Tiba hari H, Dadang (Kapten sekaligus merangkap Pelatih) ini sudah bikin gambar strategi pertandingan di papan tulis pas jam istirahat, dan yang lainnya ikut kumpul untuk briefing. Profesional sangat bukan? 🙂

Setelah strategi pertandingan beres, saatnya cewek-cewek sekelas dimintai sumbangan-sukarela-sedikit-maksa untuk konsumsi tim sepakbola itu. Alhasil, kami harus ikhlas separuh uang jajan dihibahkan ke mereka, ketimbang harus dikejar-kejar macam debitur kredit kolektibilitas 5. 😐

Apalah arti tim sepakbola tanpa supporter, pertandingan akan terlihat tak bernyawa. Kalau kelas lain supporternya adalah cowok-cowok, sungguh 2-4 adalah tim sepakbola yang full team, supporternya cowok dan cewek. Bersama Ninu dan Neneng, saya tercatat sebagai supporter tetap tim sepakbola amatir ini. Jangan coba-coba menghindar tidak ikut jadi supporter, ancaman di-bully sepanjang sisa hari di sekolah itu cukup menyebalkan. Apalagi track record suku saya yang sering jadi objek lawakan cowok-cowok kampret itu, saya nggak bisa lolos. Beberapa kali harus say bye bye ke jadwal les bahasa inggris karena tim ini akan bertanding. *Bapak Mama maafkan akuuh*. Tapi memang dasarnya saya gampang diajak hore-hore, jadilah berpanas-panasan nonton bola tetap saja menyenangkan. 

Mungkin suara sorak sorai melengking kami bertiga yang mereka butuhkan, ataukah keberadaan kami untuk menjaga tas-tas mereka, peranan kami jadi begitu penting. Saat pemain lagi break istirahat, seringnya kami disuruh berkomentar tentang pertandingan yang sudah lewat. Dan selayaknya komentator profesional, kami cekoki atlet-atlet amatir ini dengan pujian dan review yang dramatis yang memang ingin mereka dengar. HAHAHA… *disundulbola*

Bagian paling menyebalkan saat pertandingan selesai adalah kejahilan mereka. Keringat dan baju basah mereka suka dilempar kemana-mana, ke kami supporter cewek paling sering. ASEM!

Dan bagian paling memorable adalah saya menemukan idola, cowok kelas lain. Cinta monyet jaman SMA terkadang gampang timbul. Padahal orangnya sudah sering mondar mandir depan kelas, baru suka pas lihat dia main bola. Magis. Aura lapangan hijau buat semua jadi terlihat indah. Cowok memang kecakepannya meningkat beberapa level kalau jago main bola. Kan? Ya kan??.. :’) Menulis ini, memacu rindu pada moment-moment jadi supporter tim amatir kelas. Meski amatir, mereka selalu menang lawan kelas lain. Kekonyolan mereka di lapangan, bisa bikin saya ketawa ngakak sampai keluar air mata. 

Jangan ditanya seberapa wangi baju saya sehabis pulang dari nonton bola. *Ngana kira-kira sandiri jo.. Yah, hitungannya dari skala 1 – seminggu tidak mandi* :)))))

Otak semut saya menyimpan dengan rapih kenangan lucu itu semua, yang lebih banyak sukanya dibanding duka. Saat jadi supporter sepakbola kelas, ada rasa bahagia tersendiri yang tidak didapatkan saat jadi supporter pertandingan futsal. 

 

Laaa lala lala lalaaaaa.. Laaa lala lala lalaaaaa.. Hoo oo ooo ooo oowww.. Hoo oo ooo ooo oowww..

 

 

Mal Ratu Indah, 16 Maret 2014

****

Advertisements

About coklatcaca

Lulusan Arsitektur, tapi terdampar sebagai Karyawati Bank. Berharap suatu hari bisa bekerja dari rumah, jadi full IRT atau Wiraswasta.
This entry was posted in Hore-hore. Bookmark the permalink.

2 Responses to Menolak Lupa: Jadi Supporter Tim Sepakbola Kelas

  1. Nasrul says:

    Wah ternyata fans bola juga toh…baru tau eike hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s