Detik, Menit, Jam..

Dduaarrr!!

Ban taksi berwarna biru tua meletus di jalur cepat Tol Reformasi Makassar. Dengan sigap namun sedikit panik si supir taksi menepikan mobil ke sebelah kanan.

Tunggu ki sebentar di’, 2 menit ji ini saya ganti bannya, Bu.”

Begitu janji sang supir kepada saya, penumpangnya pagi itu.

Saya melirik ke jam tangan, pukul 7.50 WITA. Masih 1 jam lebih sebelum jadwal take off. 

Sejak kemarin sore kota ini diguyur hujan deras, dan sepertinya pagi itu belum ada tanda hujan akan reda. Saya semakin gusar, kepanikan disertai pikiran negatif pun mulai muncul.

“Ya Allah, mohon lancarkan perjalanan saya kali ini.”

Hal terbaik yang harus saya lakukan. Berdoa.

Satu menit berlalu, tiba-tiba dua orang petugas Tol mendekati taksi ini. Satu orang yang sudah agak tua langsung memarahi si supir taksi yang sedang mengganti ban.

KENAPA KO BERHENTI DI JALUR KANAN? KALAU BAN MOBILMU PECAH, HARUSNYA KO MINGGIR KE KIRI!!! INI JALUR CEPAT, KALAU ADA YANG HANTAM MOBILMU DARI BELAKANG, BAGAIMANA???”

Seketika saya menengok ke belakang dan menyadari bahwa taksi ini berhenti di jalur salah. Jalur yang akan membahayakan nyawa saya dan si supir taksi. Mobil yang datang dari arah belakang semuanya melaju dengan cepat, seolah-olah pengemudinya ingin segera sampai ke tujuan karena kebelet buang air besar. Saya melihat petugas Tol yang satunya sedang melambai-lambaikan tangan ke arah mobil yang datang dari belakang, sebagai tanda peringatan.

Lima menit kemudian ban cadangan sudah terpasang dan taksi ini kembali melaju, mengantarkan saya ke Bandara Sultan Hasanuddin.

Setelah check in dan menunggu sekitar 30 menit, waktu boarding pukul 09.00 WITA pun tiba. Kursi saya di dekat pintu darurat.

Memikirkan sebentar lagi akan terbang dan bertemu dengannya, rasanya semakin tak sabaran. Petrichor sehabis hujan nampaknya membuat rindu ini semakin berat.

Pramugara dan pramugari sudah memperagakan standar keselamatan penerbangan. Doa bepergian pun sudah saya panjatkan. I’m ready to fly. 

Satu menit. Dua menit. Lima menit. Lima belas menit. Singa Udara ini belum juga terbang. Terdengar permohonan maaf karena masalah izin terbang dari speaker yang kresek-kresek. Tanpa ada aba-aba apapun penumpang kompak berteriak “huuu” yang panjang disertai beberapa kalimat omelan dengan muka kesal.

Di depan saya, ada rombongan keluarga yang mengisi waktu menunggu ini dengan makan bekal. Yup, bekal berisi buras, telur asin, dan sambel tumis. Luar biasa persiapannya.

Tiga puluh menit. Empat puluh lima menit. Satu jam. Dan seluruh penumpang pesawat ini harus turun karena radar cuaca pesawat rusak. Kami harus menunggu pesawat lain dari maskapai ini yang siap terbang dengan kondisi baik. Tak apalah, safety is more important. 

Kembali ke ruang tunggu dan menunggu. Saya menunggu. Dia pun menunggu. Waktu berjalan lambat, mengolok-olok hati yang tak lagi sabar.

Pukul 11.30 WITA panggilan boarding terdengar. Saatnya naik ke pesawat pengganti. Hujan telah reda sejak dua jam lalu.

Gumpalan awan putih yang berarak-arak, langit biru yang cerah, ditambah laut biru yang luas membuat mata saya enggan untuk terpejam. Pemandangan ini sungguh indah. Menghilangkan kedongkolan karena menunggu.  Sempat terpikir untuk berfoto, tapi saya ragu menyalakan handphone. 

Setelah tiga pulau-pulau kecil yang berbaris, dan beberapa pulau besar yang semuanya berpasir putih terlintasi, saat landing pun tiba.

Saya bergegas keluar saat pesawat ini berhenti dengan sempurna. Segera setelah mengambil bagasi, saya berjalan cepat mencari pintu keluar dari Terminal Kedatangan ini.

Dia sudah menungguku sedari pagi. 10 jam menempuh perjalanan darat, 1 jam 30 menit perjalanan udara, dan lima jam waktu menunggu di bandara sudah dia habiskan. Saya ingin segera mendaratkan pelukan hangat untuknya.

Dia disana. Suamiku. Bersandar di tiang penyangga bangunan. Tersenyum melihat istrinya yang tak langsing.

Saya menghambur ke pelukannya. Memeluknya erat.

Cukup sudah drama taksi dan pesawat tadi pagi. Cukup sudah rindu tertumpuk selama enam minggu.

Saatnya menghabiskan waktu di kota ini. Berlibur dan ber-bulan madu.

Welcome to Bali, Abi-Ummi..

Welcome to Bali, Abi-Ummi..

Advertisements

About coklatcaca

Lulusan Arsitektur, tapi terdampar sebagai Karyawati Bank. Berharap suatu hari bisa bekerja dari rumah, jadi full IRT atau Wiraswasta.
This entry was posted in Vacation. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s