Click – The Movie

Sabtu malam kemarin saya kembali menonton film ini di HBO. Itu kali kedua saya menontonnya, nonton pertama waktu film ini baru dirilis di tahun 2006, saat itu saya masih kuliah semester 6. Ini salah satu film favorite saya.

Film ini mengisahkan seorang lelaki bernama Michael Newman (Adam Sandler), seorang Arsitek yang memiliki seorang istri dan dua orang anak. Michael ini pada suatu malam mendapatkan sebuah remote control yang bisa mengatur hidupnya hanya dengan menekan tombol – tombol pada benda tersebut. Layaknya fungsi sebuah remote control pada umumnya yang bisa mempercepat dan memperlambat gambar, menghentikan gambar, memperbesar atau memperkecil volume suara, benda ini juga bisa membuat si Michael memutar kembali masa lalu atau kejadian menarik yang telah dia lalui.
Menarik untuk ditonton, kan?

Kemarin saat saya menonton kembali, pada klimaks film saya sempat menangis. Yup, akuhh mewek karena sedih saat detik-detik Michael meninggal – walaupun ternyata itu cuma mimpi ajeeh.

Anehnya ketika pertama kali menonton film ini, saya nggak nangis. Malah lebih banyak senyum sambil ngakak karena saat itu, saya tercatat sebagai mahasiswa Arsitektur, yang mengkhayal bakal bisa meraih kesuksesan di bidang Arsitektur seperti si tokoh utama.

Saya jadi bertanya, kok bisa ya waktu itu saya nggak nangis? Padahal kan di film ini banyak pelajaran kehidupan yang bisa dipetik.

Tapi kemudian saya menyadari, pada kali pertama saya menonton film ini, hidup masih minim drama.

Yah, galaunya cuma berkisar antara duit jajan yang habis, cinta monyet atau kasih cinta monyet yang tak sampai, horornya asistensi tugas gambar ke dosen, betapa menyebalkannya adik-adik maba yang “sok” setelah masa orientasi kampus berakhir, dan retaknya ke-solid-an geng karena hobby yang tak lagi sejalan. Sungguh, masih merisaukan hal yang remeh temeh. Pantasan aja saya nggak ngeh dengan hikmah film ini.

Ketika kemarin saya menonton lagi dan kemudian menangis, saya menyadari bahwa saya sudah cukup mencicipi drama-drama kehidupan. Mulai dari perjuangan cari kerjaan setelah lulus kuliah, menopang dapur keluarga saat orang tua sakit, kisah cinta yang pasang surut, mengobati duka karena kehilangan keluarga inti, desakan menikah karena umur sudah cukup matang, sampai Alhamdulillah akhirnya menikah juga.

Tidak sekali duakali saya berharap punya tombol skip ketika drama-drama tersebut muncul satu per satu kala itu. Sisi lemah saya mendesak untuk menyerah dan lari dari ujian kehidupan.

Jika mungkin itu terjadi, maka bisa dipastikan saya tidak akan belajar menjadi pribadi yang kuat dan tangguh, tidak akan belajar bagaimana mencari solusi, tidak akan belajar bersabar melewati situasi yang pelik, dan mungkin akan kehilangan banyak momen seperti yang dialami Michael.

Mental instan dan mencari jalan pintas yang tidak sehat mungkin akan tertanam selamanya dalam benak saya.

Menonton film ini juga kembali mengingatkan saya, bahwa se-matimatian-nya seseorang dalam mengejar karir untuk memperbaiki taraf kehidupannya, tetaplah keluarga dan kesehatan menjadi prioritas utama yang tak boleh terabaikan.

Jangan terpukau dengan emas yang kau lihat di ujung pelangi, bisa jadi itu ternyata hanya sebiji jagung. – Worty –

Advertisements

About coklatcaca

Lulusan Arsitektur, tapi terdampar sebagai Karyawati Bank. Berharap suatu hari bisa bekerja dari rumah, jadi full IRT atau Wiraswasta.
This entry was posted in Pikir-pikir. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s