Pete-pete & Supetnya

Selama 20 tahun lebih saya setia menjadi pengguna Pete-Pete (Angkot). Mulai dari jaman masih menenteng botol minum besar pake seragam putih merah, hingga kini jaman  pake seragam Bank Syariah. Mungkin kalau ada Persatuan Pete-pete Makassar, saya bisa dijadikan priority member.

Di rumah hanya ada sepeda motor, yang belum bisa saya kendarai karena masih trauma akibat kecelakaan dulu. Kalau mau naik taksi tiap hari rasanya terlalu horangkhaya sekali. Mau naik becak takutnya betis si Daeng Becak yang meletus di tengah jalan akibat kelelahan mengayuh roda ban, karena jarak rumah kantor yang lumayan jauh. Mau naik bentor juga harga tarifnya mulai sebelas dua belas sama argo taksi. Jadilah pilihan yang paling aman di kantong memang naik Pete-Pete.

Meski harga relatif terjangkau, kadang kenyamanan dan keamanan berbanding terbalik. Kalau lagi untung, ya bisa dapat Pete-Pete yang kondisi mobilnya masih bagus, interiornya bersih, joknya empuk, penumpangnya wangi-wangi, putar lagu yang lagi hits atau yang easy listening, supirnya nggak ugal-ugalan, kuku dan tangan supirnya bersih, dapat uang kembalian yang nggak masuk kategori UTLE, jalan di jalur yang sesuai trayek, dan saya nggak terlambat sampai ke kantor.

Akan tetapi, keinginan kadang ketampar oleh realita, dimana beberapa kebalikan dari kondisi point keberuntungan yang sudah saya sebutkan tadi bisa saya alami secara bersamaan. Supir ugal-ugalan, maruk penumpang, semua belokan jalan dilalui meski bukan trayeknya, ngetem di ujung jalan tunggu penumpang fatamorgana – seolah ada padahal kagak, akhirnya akikk terlambat lah ke kantor. *nangishuruhara*

Kalau sudah kayak gitu, pasti lah yang saya jadikan kambing hitam ya si Supet (Supir Pete-Pete). Tapi kok kayaknya nggak bijak deh, harusnya kan saya bisa mengantisipasi dan memitigasi dengan berangkat ke kantor beberapa menit lebih awal.

Saya mencoba mengaplikasikan materi Seven Habit – nya Stephen Covey yaitu be proactive. Ketika dihadapkan pada kondisi drama Pete-Pete di pagi hari saat berangkat ke kantor, saya punya dua pilihan yaitu menjadi orang reaktif (terpengaruh pada situasi itu yang akhirnya membuat saya badmood) atau menjadi orang proaktif (nggak ambil pusing dan enjoy saja dengan kondisi itu).

Untuk mempermudah saya memilih pilihan yang kedua, saya bolak balik meyakinkan hati bahwa saya dan si Supet memiliki persamaan yakni bangun di pagi hari dan berangkat kerja untuk mencari rezeki. Beberapa dari mereka mungkin maruk cari penumpang, semua jalan tikus dilewati, biar dapat banyak rezeki. Begitu pun saya, berusaha ke kantor tepat waktu, biar track record kedisiplinan tetap baik.

Saya berharap bisa jadi ahli menebak karakter Supet dari jauh saat menunggu, biar bisa menghindari Pete-pete yang Supetnya bisa mancing muka manyun sebal di pagi hari.

Oh ya, terima kasih kepada Bapak-Bapak Supet yang pernah saya jumpai, yang sudah memberikan pelayanan dan keamanan dalam berkendara.

Semoga Pete-pete menjadi pilihan transportasi umum yang aman dan menyenangkan.

Salam lima ribu, Pak. :)))))

Advertisements

About coklatcaca

Lulusan Arsitektur, tapi terdampar sebagai Karyawati Bank. Berharap suatu hari bisa bekerja dari rumah, jadi full IRT atau Wiraswasta.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s