Memilih JAFRA

Perawatan wajah dan badan sudah tidak bisa lagi dipisahkan ketika kita lagi ngomongin soal perempuan. Bukan hanya perempuan yang sibuk melakukan perawatan ini itu biar keliatan kinclong, kaum lelaki pun melakukan hal yang sama. Paling minimal banget mereka pake sabun khusus buat cuci muka.

Nah, udah setahun lebih ini saya mulai melupakan yang namanya perawatan. Saya hanya pakai produk yang ada iklannya di TV, misalnya Ponds dan Loreal. Bahkan krim krim buat muka pun, saya nggak pakai. Habis cuci muka pake Ponds, cuss pakai bedak padat. Begitu aja.

Saya bukannya malas perawatan, bukan. Tapi beberapa history perawatan khususnya perawatan muka, saya akhiri dengan kata perpisahan.

Saya pernah pake krim racikan yang dijual beberapa teman-teman, yang mana isi paketnya ada sabun, krim siang, dan krim malam. Nggak perlu pakai bedak padat. Hasilnya, muka aiii jadi putih booo’…putih pucat sih lebih tepatnya, trus lama kelamaan kulit seperti menipis. Coba berhenti pake, ehh balik lagi jadi kusam, malah diiringi dengan bruntusan (muncul jerawat-jerawat kecil, bentuknya seperti biang keringat).

Habis itu balik lagi pake Ponds. Tapi ya gitu gitu aja. Beberapa masalah seperti flek hitam, komedo, pori-pori besar, dan bopeng bekas jerawat malah nggak teratasi.

Sempat juga konsultasi ke dokter kulit referensi dari teman kantor, tapi ya hasilnya begitu aja, nggak ada perubahan.

Pas mau nikah di tahun 2014, sempat penasaran sama wajah junior di kampus dulu, mukanya mulus deh. Bertanya lah saya ke dia soal perawatan muka yang dia pakai. Ternyata dia pakai krim dari dokter kecantikan. Trus dia berbaik hati ngasih kontak pin BbM si dokter supaya saya bisa konsultasi via BbM karena si dokter prakteknya di Jakarta. Setelah konsultasi dan kirim kirim salam foto sama dokternya, si dokter ini akhirnya menyuruh saya pakai sabun, krim siang malam, dan juga serum siang malam. Hasilnya gimana? Muka jadi putih tapi nggak pucat, lebih ke kenyal-kenyal berminyak. Cuma, rangkaian perawatannya butuh waktu lama. Antara pakai serum dan krim pagi butuh jeda beberapa menit. Kalau telat bangun pagi trus buru-buru mau ke kantor, wassalam dah. Makenya udah asal-asalan. Sekali waktu ada sekitar 3 minggu saya nggak pakai krim malam karena lupa dan biasanya udah keburu ngantuk. Ehh tau tau pas mau pake krim malamnya, berubah warna dong krimnya dari warna kuning gading jadi warna coklat kehitam-hitaman. YUK BHAYYYY!! Saya stop pake krimnya. Ngeri liat warnanya jadi berubah kayak gitu.

Akhirnya beralih ke Loreal dengan harapan muka bisa seperti Dian Sastro mulus dan segar. Tapi nggak ada perubahan. Dan setelah krimnya habis, saya pun nggak mau pake apa-apa lagi selain sabun muka Ponds dan bedak padat.

Sepertinya itulah masa-masa patah hati saya karena di-PHP-in produk perawatan wajah. Hati saya langsung buat janji nggak bakal pake racikan dari mana pun atau pun tertipu iklan lagi.

Patah hati bertambah makin ngenes karena kepengen pake produk perawatan wajah merk mahal asal Jepang itu, tapi nggak sanggup dengan harganya. Ngapain juga muka oke, tapi bokek. Syukur-syukur kalau cocok, kalau nggak ya amsyong lah.

Keteguhan saya mulai agak goyah ketika Mama udah mulai sering komentar soal muka saya yang kusam. Saya bolak balik bercermin apa iya se-kusam keresahan Mama, tapi rasanya ahh.. masih cantik kok *dibasuhkrimmukaseember*.

Seperti sudah jalannya, ditengah kegalauan saya buka BbM dan Tika (bekas teman kantor) lagi promosi produk JAFRA. Mulailah saya tanya ini itu, dia mulai jelasin bla bla bla soal produk dan keuntungan jadi member. Saya pun tertarik dan merasa yakin dengan produk ini setelah cari tau lewat mbah Google juga, dan tanya ke teman lain yang udah pake duluan.

Dan karena saya anaknya nggak mau rugi dan berniat untuk ikut jualan, saya akhirnya mantap mendaftar jadi member di JAFRA, sehingga saat ini saya punya kerjaan baru sebagai JAFRA Consultant. *tersenyumdenganmukamanissekali*

image

Jadi kedepannya kalau ada yang mau tanya-tanya soal produk JAFRA, boleh menghubungi saya yah.

Salam JAFRA. 🙂

Advertisements

About coklatcaca

Lulusan Arsitektur, tapi terdampar sebagai Karyawati Bank. Berharap suatu hari bisa bekerja dari rumah, jadi full IRT atau Wiraswasta.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s