H-4 LEBARAN 1437 H

H-4 menjelang lebaran saya sudah mulai libur. Alhamdulillah akhirnya sudah bisa lepas sejenak dari kerjaan kantor yang seakan “rauwis uwis”. Lega. Semoga nggak ada kendala pelayanan ATM selama libur nanti, supaya liburan saya nggak terganggu karena harus datang ke kantor untuk menghandle masalah.

H-4 menjelang lebaran kali ini saya nggak terlalu sibuk mempersiapkan pernak pernik pendukung Hari Raya. Saya hanya menyiapkan uang baru pecahan kecil buat dibagi ke bocah-bocah tetangga. Nggak ada persiapan baju baru. Nggak ada sepatu/sandal baru. Nggak ada mukenah baru. Nggak ada seprei baru. Nggak ada kesibukan bikin kue-kue kering. Nggak ada. Dan ini sungguh diluar kebiasaan. Sebagai anak sulung, ketika sudah punya penghasilan sendiri, semua ketiadaan tadi akan menjadi ada karena sudah saya siapkan dari pertengahan bulan puasa. Bahkan keperluan keluarga pun saya yang rempong nyiapin.

Lalu kenapa sekarang nggak ada?

Karena sekarang saya berada di titik jenuh terhadap euphoria persiapan Lebaran.

Saya mulai menyadari bahwa Hari Lebaran nggak melulu semua harus serba baru. Hari Lebaran Idul Fitri nggak sampai harus bikin tulang kita pegal-pegal karena jor-joran bikin kue segala macam rupa. Hari Lebaran nggak harus bikin tehaer kita habis bahkan tanpa ampas sedikit pun di dompet karena sudah ditukar dengan barang-barang yang sebenarnya nggak perlu perlu amat untuk dibeli.

Bertahun-tahun saya berada pada rutinitas seperti itu. Yang ada hanya dapat capek. Dan tahun ini saya berniat untuk mengubah kebiasaan yang menurut saya kurang positif.

H-4 menjelang lebaran, saya takut keramaian. Apalagi keramaian di jalan raya pada malam hari. Entah mengapa saya merasa jalanan sehabis jam buka puasa semakin bising, semakin hingar bingar, semakin padat tak ada celah. Rasanya semua orang yang berkendara di jalanan terlalu terburu-buru. Mobil motor melaju kencang, seakan kecepatan tinggi adalah standar wajib dalam berkendara. Saya takut jalan raya di malam hari. Saya nggak suka.

H-4 menjelang lebaran dan saya lebih senang menyendiri. Tidur-tiduran di kamar. Nggak kemana-mana. Ngobrol seperlunya. Lebih banyak diam. Sesekali memantau dunia luar dari smartphone. Slow respon mode: ON.

Di H-4 menjelang lebaran, saya masih sangat kehilangan Alm. Bapak, Almh. Ria, dan Almh. Manek. Yang pasti kami akan semakin sepi di Hari Raya nanti. Meski rumah mungkin rame oleh tamu yang datang, tapi hati kami sepi. Kami masih berduka, dan mengobati duka dan kehilangan dengan cara kami masing-masing. Ziarah kubur sehabis sholat Ied adalah agenda keluarga kami tiga tahun terakhir. Dulu ketika Bapak masih sehat, di Hari Raya kerjaan saya hanya cuci piring. Semakin banyak tamu yang datang, semakin banyak keluarga yang datang, semakin banyak pula tumpukan piring. Sekarang tamu di Hari Lebaran mulai berkurang, namun job desk saya masih tetap mencuci piring. Nasib.

H-4 menjelang lebaran, suami saya nggak mudik. Belum sampai waktunya untuk roster. Mudiknya baru di H+5, saat libur sudah selesai. Drama LDR.

H-4 menjelang lebaran, masih ada waktu untuk memperbaiki kualitas Ramadhan kita. Semoga kita menang di Hari Kemenangan.

Selamat menuju akhir Ramadhan.
Selamat mudik.

Advertisements

About coklatcaca

Lulusan Arsitektur, tapi terdampar sebagai Karyawati Bank. Berharap suatu hari bisa bekerja dari rumah, jadi full IRT atau Wiraswasta.
This entry was posted in Body, mind, & soul. Bookmark the permalink.

2 Responses to H-4 LEBARAN 1437 H

  1. Iyaaa saya juga malas beli beli, knapa itu di, mungkin faktor umur, hahahaa.. I miss you so badly, semoga ada perjumpaan setelah lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s