Jogja

Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kata teman saya yang pernah kuliah disana, Jogja adalah kota yang “ngangenin”. Saya pun sepakat dengan pendapatnya.

image

Lima hari tinggal di Jogja, sudah bisa bikin saya jatuh cinta dengan kota itu. Andai saja harga kost-kostan harian yang kami (saya & suami) sewa nggak mahal, atau andai saja cuti tahunan dari kantor dan roster cuti suami nggak pakai limit, kami bisa betah tinggal di Jogja.

Gimana coba mau nggak betah, kalau perihal makan berat (sarapan, makan siang, makan malam.. *iyess, buat saya sarapan masuk kategori makan berat*) berdua orang harganya paling mahal habis di angka 45rb perak, nggak sampai 50rb. Entah itu kami makannya di warung depan Mall, di jejeran toko di Jl. Malioboro, di warung singgah dekat Bandara, di warung singgah dekat Borobudur, ataupun tongkrongan anak gaul Jogja, semua sama aja harganya. Kalau kita bisa terus-terusan makan dengan harga sehemat itu, bisa beli Alphard kali yaa. Bhikk.

image

Ada sihh makanan yang harganya lebih dari 70rb kayak Sop Kaki Kambing depan Royal Ambarukmo, tapi rasanya memang enyakkkk *menerawang sambil ngeces*, menurut saya harganya masih wajar karena rasanya sebanding walau tempatnya yang kurang representatif. Tapi bukan berarti yang harganya murah rasanya jadi nggak enak ya, jangan salah.. bumbu masakannya terasa di lidah, nggak asal-asalan penjualnya dalam meramu bumbu. Yang bikin saya rasanya mau nangis pelangi saking takjub dengan harga makanan di Jogja adalah selain memesan menu utama, saya dan suami juga mencicipi menu gorengan berikut dengan kerupuk-kerupuk yang seringnya tersedia di meja tempat kami duduk ataupun meja etalase dekat kasir, tapi saya nggak dibuat kaget setelah bayar makanan, malah balik heran dan menganalisa dalam hati, “ini penjualnya dapat untung nggak yah kalau harganya mursida kayak gini…jangan-jangan…hmmm?”.

image

Kejutan manis lain datang dari harga minuman jus buah segar yang harganya hanya 5rb saja namun rasanya perfecto, itupun sudah pake acara mix and match dengan satu atau lebih jenis buah yang lain dan susu. Mungkin buat orang Jogja dan sekitarnya yang sudah terbiasa dengan kearifan lokal ini akan menganggap saya berlebihan dalam mengapresiasi harga makanan dan minuman di Jogja. Tapi serius, di Makassar mana bisa dapat jus buah segar dengan harga segitu, paling-paling dapat jus buah dari produk minuman sachet. Kalau pun ada yang pakai buah segar, rasanya nggak se-total yang ada di Jogja.

Selain makanan, saya mengacungi jempol pada attitude pengendara mobil dan motor di jalan raya. Meski melaju dalam kecepatan tinggi, mereka nggak ugal-ugalan dan nggak main salip kanan kiri. Selama disana saya nggak pernah melihat ada motor yang jalan melawan arah. Kalau jalurnya mesti mutar, ya mereka mutar.

Tabiat lain yang suka bikin gemeshh menurut saya dan suami saat di Makassar adalah ketika berhenti di lampu merah dan kemudian lampu hijau menyala, mobil yang berada di baris kedua hingga belakang kompak membunyikan klakson, menyuruh mobil yang ada di baris paling depan untuk segera jalan. Padahal mobil yang ada di depan pun sudah bersiap untuk jalan. Kadang di lampu merah kan suka macet, ehh malah yang di belakang tetap bunyikan klakson. Sepertinya stok sabarnya terlalu low.

Kejadian kayak begitu hanya 1 kali saya temukan ketika akan menuju Prambanan. Sebuah mobil box yang tak sabaran membunyikan klakson ketika mobil di baris depan sudah mulai jalan. Menurut terkaan ngasal saya dan suami, si supir berasal dari atau lama menetap di Makassar. Hahahaha.

Saya nggak tau apakah kejadian-kejadian tadi hanya faktor kebetulan atau memang sudah jadi kebiasaan orang Jogja dalam berkendara. Semoga saja sangkaan saya benar.

Meski liburan kemarin sangat menyenangkan, ternyata ada juga yang bikin dongkol dan nggak nyaman.

Nggak nyaman pertama diperoleh saat naik Trans Jogja. 3 kali gonta ganti bus, hanya 1 bus yang sukses bikin kepala saya nggak oleng dan perut nggak mual. Di 2 bus lainnya, saya merasa si supir seperti sedang bawa mobil yang memuat hewan ternak. Bawa mobilnya laju sekaliiii, gas pol, kalau mau belok nggak tanggung-tanggung, kita penumpangnya sampai harus miring-miring nggak jelas. Diatas bus itu mungkin hanya saya yang berdzikir dan beristigfar dengan
fasih, takut kalau kalau bus ini jatuh mencium aspal karena bermanuver dengan posisi miring.

image

image

Nggak nyaman kedua, datang dari tukang becak yang akan membawa kami ke Keraton Jogja. Si tukang becak menawarkan paket jasa mengantar ke empat tempat sebesar 15rb dari ujung Jl. Malioboro. Okelah, saya dan suami setuju.

Destinasi pertama adalah pusat oleh-oleh Bakpia Pathok.
Seperti terbius walaupun masih bingung, saya dan suami pun tetap turun untuk belanja oleh-oleh, dan keluar dari toko dengan menenteng dos Bakpia ukuran medium.

Diatas becak saya dan suami mulai siuman, dan terjadilah dialog bisik-bisik:

Kok kita beli oleh-oleh dulu??? Kan kita mau jalan-jalan!!! Ini berat loh nenteng dos Bakpia??

Belum kelar dialog kami, becak berhenti di destinasi kedua yaitu pusat oleh-oleh kerajinan tangan yang jual batik, kaos, dll. Naluri emak-emak hemat saya pun keluar. Saya nggak mau belanja oleh-oleh lagi, saya maunya jalan-jalan ke Keraton. Eh si tukang becak agak ngotot agar kami harus turun dan belanja, saya pun ngotot nggak mau belanja. Akhirnya si tukang becak mengalah dan membawa kami ke destinasi ketiga, Keraton Jogja. Di perjalanan si tukang becak cerita kalau toko-toko pusat oleh-oleh tadi akan memberikan tip bulanan berupa sembako kepada tukang becak yang banyak membawa pengunjung mampir ke toko mereka untuk belanja.

Sampai di Keraton, kontrak jasa mengantar kami harus hangus karena kami nggak singgah di destinasi kedua. Yah nggak papa lah, lumayan kerja keras juga harus mengayuh becak yang mana ukuran penumpangnya nggak tergolong imut.

image

Nggak nyaman ketiga ini imbas dari si tukang becak tadi. Jadi suami sudah mulai dongkol dong yahh dengan dos Bakpia tadi yang nampaknya akan mengganggu acara keliling-keliling kami di Keraton, dos tersebut ternyata sama dia dimasukin ke tas, yang mana di dalam tas itu ada kacamata kami berdua. Dia lupa sama keberadaan kacamata. Dos Bakpia yang berat menekan kacamata yang berada di dasar tas dan akhirnya kacamatanya meski nggak pecah tapi kacanya terlepas dari frame. Amsyong.

Liburan memang nampaknya kurang seru tanpa drama.

Apapun dramanya, I still laaaaff Jogja.

Semoga suami bisa wisuda akhir taun ini, dan saya bisa diajak ke Jogja lagi. Aamiin.

image

Advertisements

About coklatcaca

Lulusan Arsitektur, tapi terdampar sebagai Karyawati Bank. Berharap suatu hari bisa bekerja dari rumah, jadi full IRT atau Wiraswasta.
This entry was posted in Vacation. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s