Tupperware

Kecanduan Tupperware buat saya menyadari akan umur yang tak lagi belia. Maaf ya jika ada yang kurang berkenan. Selama ini dalam persepsi saya, hanya Ibu-ibu yang senang belanja produk tersebut. Anak abg mana sempat kepikiran buat beli Tupperware kalau bukan emaknya yang beliin.

Tupperware pertama yang saya beli tahun 2013 adalah botol minum ukuran 500ml.

image

Alasan pertama beli botol ini karena botolnya ada yang warna ungu. Warna favorite. Baru dialasan kedua mengapa saya beli karena memang saya butuh botol isi ulang, yang mana ketika itu saya lagi memaksa diri sendiri untuk rajin minum air putih.

Tupperware kedua yang saya beli adalah wadah/toples tempat cemilan.

image

Seperti foto di atas, tapi warnanya ungu. Yup, kembali dengan urutan alasan yang sama. Warna, lalu kebutuhan, yang sebenarnya saat itu ga butuh-butuh amat. Namun karena sakit maag menyerang, akhirnya ada #alasanpembenaran untuk beli. Sebagai wadah untuk menyimpan biskuit di kantor. Tapi akhirnya disimpan di rumah karena ukurannya kegedean kalau disimpan di kantor.

Koleksi Tupperware ketiga adalah wadah/toples cemilan, lagi. Yang kali ini ukurannya lebih kecil dari koleksi kedua.

image

Kurang lebih kayak gambar di atas. Cuma yang saya punya masih desain lama. Dan ga ada yang ukuran small, hanya medium yang jumlahnya ada 4. Waktu itu belinya sharing dengan teman kantor. Karena kalau beli satu paket sendirian mahal yahh pemirsah. Ga butuh-butuh juga. Hanya lapar mata kayaknya. Dan lagi-lagi tersilaukan oleh warna. Huh.

Lanjut.

Karena sudah terbiasa dengan minum air putih dalam jumlah banyak dalam sehari ditambah alasan capek bolak balik antara dispenser – meja kerja buat ngambil air minum, jadilah beli botol baru lagi yang ukurannya lebih besar. 750ml.

image

Dan warnanya sudah pasti ungu. Hahaha.

Koleksi kelima Tupperware ini alasan pembeliannya cukup mulia.

image

Biar sering-sering bawa bekal ke kantor. Trus gaji bisa dihemat. Makanan lebih sehat karena bawa dari rumah.
Terealisasi? Nggak. Hanya sesekali. Ga sering. Mudah-mudahan setelah ini bisa lebih rajin lagi deh.

Tupperware sudah mulai bikin saya kecanduan dan posesif. Suka dengan pilihan warnanya. Bentuknya pun lucu-lucu. Kalau ada yang bawa katalog ke kantor, pasti deh saya luangkan waktu untuk buka-buka katalognya walaupun ga beli. Trus makin kesini makin bercita-cita kalau suatu saat tinggal di rumah sendiri, barang-barang dapurnya saya isi Tupperware semua. Hahaha.

Hampir setiap bulan saya ngecek koleksi Tupperware di lemari. Semacam cash count bulanan. Takut kalau ada yang hilang atau dipinjam orang trus belum dibalikin. Saya suka bikin janji sama suami kalau dia bawa Tupperware di mobil atau di mess, jangan sampai dihilangkan. Permintaan yang bikin suami cuma bisa geleng-geleng kepala. Posesif abis.

Tapi bukan cuma saya yang punya kelakuan kayak gitu. Ibu-ibu di luar sana pasti juga melakukan hal yang sama. Secara produk ini adalah produk plastik mahal. Huhuhu. Bapak teman saya yang profesinya aparat aja suka takut dimarahi istrinya kalau pulang ke rumah dan ternyata Tupperware tempat bekal sarapan atau makan siang tercecer atau hilang. Kalau pun ketinggalan di kantor pasti tiap pagi diingatkan untuk jangan lupa dibawa pulang, bahkan sampai di sms loh. Bwahahaha.

Tupperware, candumu sungguh keterlaluan.

image
Gemes minta ampun.

image

Ga kesampaian beli. Keburu habis.

image

Pink neon..mauuu..

Advertisements

About coklatcaca

Lulusan Arsitektur, tapi terdampar sebagai Karyawati Bank. Berharap suatu hari bisa bekerja dari rumah, jadi full IRT atau Wiraswasta.
This entry was posted in Pikir-pikir. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s