Ujian Belajar #SarapanBuah

Sudah lama saya ingin mencoba membiasakan diri sarapan dengan buah. Dan juga ngemil buah. Tapi seperti yang sudah-sudah, niat dan rencana saya mati tenggelam diantara godaan bakwan, jalangkote (pastel khas Makassar), roti, biskuit, bahkan kelas berat seperti nasi kuning.

Namun semalam saya sudah mantap mau memaksa diri untuk menjalankan program sarapan buah. Pepaya dan semangka sudah saya beli. Untuk langkah awal memang harus mencari buah yang harganya ramah lingkungan dompet. Saya yakin 100% buah apapun akan saya lahap, tapi apakah saya akan kenyang setelahnya?? Beluummm cencuuuu! Dan buah-buah yang belum tentu mengenyangkan itu harganya agak sedikit mahal. Dibanding beli semangka atau pepaya yang ukurannya besar tapi cuma habis sekitar 15rebu.

Sebelum jam 6 pagi, saya sudah wara-wiri di dapur nyiapin bekal buah. My first time. Sesuatu yang tidak biasa. Makanya saya menantang perut dan lidah saya. Seberapa jagokah mereka menghadapi ujian di hari pertama.

Ujian pertama adalah kolak pisang yang dibuat mama di Minggu sore. Sengaja beliau sisipkan di tas bekal buat sarapan saya di kantor. Yeah, masih bisa saya tepis. Dalam hati saya, masih bisalah diicip di sore hari, atau dibagi aja ke teman kantor.

Sampe kantor, ujian kedua datang. Teman kantor ada yang bawa kue Barongko (kue tradisional Makassar yang terbuat dari pisang yang dibungkus daun pisang dan dikukus). Kue ini idola saya kalau datang ke acara kawinan atau hajatan lain.

image

Saya ga bergeming. Kue Barongko terlihat sebagai halangan tak berarti. Kecil. Saya ga tergoda. Meski 2 bungkus Barongko sudah nangkring cantik di meja saya, disimpan dengan sengaja oleh teman saya.

Saya tetap memilih bekal yang saya bawa tadi. Buah. Saya kunyah dengan nikmat sambil berdoa semoga saya kenyang sampai waktu makan siang.

Tiba-tiba,

Ujian ketiga datang. Namanya niat baik selalu ada aja cobaannya. Dan cobaan terakhir biasanya lebih dahsyat. Benar saja. Teman yang tadi bawa kue Barongko ke kantor, dengan manisnya menaruh piring di meja saya. Tepat di depan biji mata dan di hidung saya.

Piring berisi pisang peppe’ (pisang penyet) + sambel.

image

The Gong!!

Saya lemah selemah-lemahnya iman. Apalah saya ini, di depan pisang goreng yang agak manis dan sambel kacang yang ajibbb.

Jari saya tanpa aba-aba langsung mengambil satu pisang dan langsung mentransfer ke mulut dan kerongkongan untuk dinikmati. Tanpa ada perang batin apapun. Habis tiga biji barulah rasa bersalah muncul. Buru-buru saya mengambil bekal buah saya tadi pagi. Seakan ingin menebus dosa, saya kembali mengunyah buah.

Anggap saja yang tadi saya khilaf.

Besok kita coba lagi.

image

Advertisements

About coklatcaca

Lulusan Arsitektur, tapi terdampar sebagai Karyawati Bank. Berharap suatu hari bisa bekerja dari rumah, jadi full IRT atau Wiraswasta.
This entry was posted in Body, mind, & soul. Bookmark the permalink.

2 Responses to Ujian Belajar #SarapanBuah

  1. Rissaid says:

    Aaak so sweetnya ibuk menyiapkan bekal.🌻

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s